Pemilihan umum Presidan tinggal
menghitung hari. Tiga kandidat kuat Jokowi, Prabowo, dan ARB dipastikan akan
berebut kursi nomer 1 di Indonesia. Strategi dalam membangun koalisi telah
gencar dilakukan. Upaya untuk mencari simpatik masyarakat juga semakin intens. Tidak
jarang suasana panas menyelimuti perjalan Pemilu. Saling menonjolkan program,
janji, visi misi, sampai isu untuk menjatuhkan reputasi lawan. Tak pelak profil
Capres selalu menjadi sorotan.
Salah satu kandidat besar yaitu sang
penegak sosialis, Jokowi. Beliau lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961. Jokowi
meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985. Sebelum
menjadi walikota solo, Jokowi berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman
sehingga tidak jarang yang meragukan kemampuannya. Namun setelah beberapa waktu
memimpin, banyak gebrakan luar biasa dalam pengembangan kota Solo. Kota dengan
moto “The Spirit of Java” ini
mengalami perubahan sangat pesat. Berkat prestasi tersebut, Jokowi mendapat
beberapa penghargaan antara lain; terpilih menjadi salah satu dari “10 tokoh
2008”, wali kota terbaik tahun 2009, Bung Hatta Award, UNS Award dll. Dari
acuan tersebut, PDI P mencalonkan nama Jokowi dalam pemilihan Gubernur Jakarta
dan kemudian terpilih dengan kemenanganan muntlak.

Selain prestasi yang memukau, Jokowi
juga tidak lepas dari kontroversi. Keputusannya untuk mencalonkan diri sebagai
Presiden mendapat banyak kritikan. Jokowi dianggap menelantarkan Jakarta. Program-program
yang direncanakan belum semuanya terealisasi. Tidak sedikit para pengamat yang
menilai bahwa jokowi hanya melakukan pencitraan saja lewat blusukan. Hal ini
jelas mempengaruhi elektabilitasnya sebagai Capres. Meskipun begitu, setiap
ditanya mengenai hal tersebut Jokowi menegaskan bahwa memimpin itu bisa dimana
saja dan tidak ada perbedaan ketika nanti menjadi Presiden.
Kontroversi lain terjadi ketika Jokowi mengunjungi dubes luar negeri, salah satunya Amerika. Para pakar politik menilai kunjungan Jokowi tersebut memberikan sinyalemen adanya konspirasi dengan Amerika. Seperti yang diketahui, Amerika saat ini sedang mempunyai hutang yang begitu besar pada Cina dan Jepang. Sehingga ada kepentingan di Indonesia yaitu sebagai lahan subur untuk mengeruk kekayaan seperti contohnya freeport dan misi lainnya.