Bahasa merupakan elemen penting
dalam berkomunikasi. Didalam komunikasi manusia tidak semata-mata terfokus pada
bagaimana gagasannya bisa tersampaikan kepada orang yang dituju. Sebagai
makhluk sosial, terdapat keinginan untuk menjalin hubungan sosial yang baik
dengan orang lain (Gunawan: 1993). Dalam hubungannya dengan interaksi sosial, banyak unsur yang harus
diperhatikan saat berkomunikasi agar menciptakan suasana yang kondusif. Bahkan
banyak fakta bahwa konflik, permusuhan, atau pertikaian berawal dari komunikasi
yang kurang baik. Kesalahpahaman sedikitpun bisa memutuskan persahabatan dan
berujung pada kekerasan. Menilik hal tersebut seharusnya setiap individu bisa
lebih menjaga tindak tutur kepada orang lain, terutama menyangkut soal prinsip
kesantunan.

Ada enam
maksim prinsip kesantunan Leech yang digunakan untuk menjelaskan hubungan
antara akal dan kekerasan dalam percakapan sehari-hari. Dalam mengukur
kesantunan, maksim berkorelasi dengan skala pragmatik yang akan dijelaskan
dalam bagian berikutnya. Penjelasan dan contoh maksim prinsip kesatunan yang
dirumuskan Leech akan dibahas dibawah ini.
1)
Maksim Kearifan (Tact Maxim)
Petutur
hendaknya meminimalisir kerugian orang lain dan memaksimalkan keuntungan orang
lain. Pada berbagai kesempatan banyak hal atau kejadian kurang baik dalam
realita kehidupan. Agar mencapai kesantunan, dalam menyampaikan hal-hal
tersebut maksim ini bekerja dengan cara memperhalus ungkapan serta lebih
menghormati atau dengan kata lain mengurangi dampak negatif yang mungkin diterima
oleh lawan bicara. Leech merumuskan contoh tingkat kesantunan dalam bahasa
Inggris.
Tingkatan
kesantunan tersebut dicontohkan dengan tuturan sebagai berikut.
Datang
kerumah saya!
Datanglah
kerumah saya!
Silahkan
datang ke rumah saya!
Sudilah
kiranya datang kerumah saya!
Kalau tidak
keberatan sudilah datang kerumah saya!
Berdasarkan
contoh diatas dapat dikatakan bahwa semakin panjang tuturan seseorang semakin
besar pula keinginan orang itu untuk bersikap santun kepada lawan tuturnya.
Selain itu, tuturan tidak langsung dirasa lebih santun dibandingkan dengan
tuturan yang diutarakan secara langsung.
2)
Maksim Kedermawaan (Generosity Maxim)
Penutur
hendaknya meminimalisir keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan kerugian diri
sendiri. Agar mencapai kesantunan, maksim ini bekerja dengan menitik beratkan
pengorbanan diri dengan tuturan yang bersifat memberikan bantuan atau melakukan
tindakan sehingga meguntungankan mitra tutur. Contoh akan digambarkan sebagai
berikut:
Konteks : Seorang cucu menjemput
neneknya yang baru tiba di stasiun dengan tas yang besar.
Cucu : “Sini nek, biar saya
bawakan tasnya”.
3)
Maksim Penghargaan (Approbation Maxim)
Penutur
hendaknya meminimalisir kecaman kepada orang lain dan memaksimalkan penghargaan
kepada orang lain. Dalam rangka berperilaku santun, pada maksim ini penutur
diminta agar bisa menerima karya atau keadaan orang lain meski mungkin dibawah
ekspektasi penutur. Maksim ini bekerja dengan cara memberikan penghargaan atau
pujian kepada orang lain dari pada mengungkapkan hal yang negatif. Dengan
maksim ini, diharapkan agar penutur tidak saling mengejek, mencaci, atau
merendahkan pihak lain karena dianggap tidak santun. Sebagai contoh di bawah
ini.
Konteks : Dua orang sahabat sedang
bearada difestival musik. Salah seorang dari mereka kemudian tampil untuk
menyanyikan lagu dan dia membawakan dengan kurang maksimal. Setelah tampil dia
menemui sahabatnya untuk meminta penilaian.
Dani : Gimana penampilanku
tadi?
Agnes : Oh, bagus. Kamu hebat!
4) Kerendahan Hati (Modesty Maxim)
Dasar
maksim kerendahan hati dalam prinsip kesantunan adalah minimize praise of self
and maximize
dispraise of self. Penutur hendaknya meminimalisir pujian terhadap diri
sendiri dan memaksimalkan kecaman terhadap diri sendiri. Menurut maksim ini,
kesantunan bisa diraih dengan mengurangi bangga diri dan berusaha rendah hati
dalam bertutur. Orang akan dikatakan sombong dan congkak hati apabila didalam
kegiatan bertutur selalu memuji dan mengunggulkan dirinya sendiri, maka hal
tersebut bisa dikatakan tidak santun. Dalam realita sosial, tata bahasa dan
budaya kerendahan hati banyak digunakan sebagai parameter penilaian kesantunan
seseorang. Sebagai contoh dibawah ini.
Konteks : Messi mendapat sanjungan
dari teman-temannya salah satunya bernama Ronaldo karena prestasi yang
didapatnya yaitu menjadi juara umum debat bahasa Inggris tingkat nasional.
Ronaldo : Selamat atas prestasi
yang dicapai, kamu luar biasa kawan!
Messi : Terima kasih, prestasi
ini tidak bisa saya capai tanpa dukungan dan doa kalian.
5) Maksim
Kesepakatan (Agreement Maxim)
Penutur
hendaknya memaksimalakan kesepakatan antara diri sendiri dengan orang lain dan
meminimalisir ketidaksepakatan antara diri sendiri dengan orang lain. Didalam
maksim ini ditekankan agar para peserta tutur dapat mengutamakan kesepakatan
didalam kegiatan bertutur, dengan begitu akan dapat mengurangi percecokan dan
disitulah nilai kesantunan muncul. Contoh akan digambarkan di bawah ini.
Konteks : Dua orang siswa sedang membahas pelajaran Bahasa Inggris.
Bambang : "Bahasa Inggris
adalah bahasa yang sulit dipelajari."
Obama : "Benar, tetapi tata bahasanya menurutku
cukup mudah."
6) Maksim Simpati
(Sympathy Maxim)
Penutur
hendaknya meminimalisir rasa antipati antara diri sendiri dengan orang lain dan
memaksimalkan rasa simpati antara diri sendiri dengan orang lain. Sikap simpati
terhadap orang lain akan dianggap santun karena akan menimbulkan efek yang
positif semacam dukungan moral kepada mitra tutur. Contohnya adalah sebagai
berikut.
Konteks : John mendatangi rumah duka, yaitu bapak dari temannya meninggal
dunia.
John : "Aku turut
berduka atas meninggalnya ayah kamu."
William : “Iya, terima kasih.